Sejarah Tempura yang Mengejutkan
Tempura sering dianggap sebagai salah satu identitas kuliner Jepang. Hidangan goreng berbalut tepung ini mudah ditemukan di berbagai restoran, dari kaki lima hingga kelas atas. Namun, sejarah tempura menunjukkan bahwa makanan ini bukanlah asli Jepang.
Asal-usul tempura bermula pada abad ke-16, ketika misionaris Katolik dari Portugal memperkenalkannya di Nagasaki, Kyushu. Saat itu, Jepang tengah berada pada masa sakoku atau kebijakan isolasi. Meski hubungan dengan dunia luar terbatas, perdagangan dengan Portugal, Belanda, dan Tiongkok tetap berlangsung di pelabuhan Nagasaki.
Para misionaris Portugis membuat tempura sebagai pengganti daging selama masa puasa. Nama “tempura” diyakini berasal dari frasa Latin ad tempora cuaresme yang berarti “di saat puasa.” Ada pula dugaan bahwa hidangan ini terinspirasi dari pakora, makanan goreng asal Goa, India.
Perkembangan Tempura di Jepang
Ketika pertama kali diperkenalkan, tempura tidak langsung populer. Menggoreng makanan membutuhkan banyak minyak, yang kala itu harganya sangat mahal. Popularitas tempura meningkat pada Zaman Edo (1603–1867) ketika produksi minyak sayur dan minyak wijen meningkat pesat.
Awalnya, tempura disajikan sebagai makanan ringan di rumah makan kelas atas. Karena rumah di Jepang mayoritas berbahan kayu dan rawan kebakaran, hidangan ini jarang dimasak di rumah. Untuk mengurangi rasa berminyak, tempura biasanya disantap bersama lobak parut.
Konon, Shogun Ieyasu Tokugawa sangat menyukai tempura. Bahkan, ada rumor bahwa kematiannya disebabkan oleh terlalu banyak memakan hidangan ini. Pada akhirnya, tempura dinobatkan sebagai salah satu dari “Edo no Zanmai” bersama sushi dan soba.
Transformasi Menjadi Ikon Kuliner Jepang
Pada abad ke-18, juru masak Jepang mulai berkreasi dengan bahan laut dan sayuran untuk membuat tempura. Inovasi ini menjadikan tempura sebagai bagian tak terpisahkan dari kuliner Jepang.
Kepopulerannya semakin meluas pada Zaman Meiji (1868–1912) ketika restoran tempura bermunculan di Ginza, Asakusa, dan Nihonbashi. Salah satu gaya populer adalah Ozashiki Tempura, di mana juru masak menyiapkan tempura langsung di depan pelanggan di ruang tatami agar tetap garing saat disajikan.
Dari sinilah lahir variasi seperti tendon (nasi dengan topping tempura) dan tempura soba. Saat ini, inovasi terus berkembang, bahkan ada tempura berbahan es krim, buah, hingga mi.
Tempura di Negeri Asal
Di Portugal, tempura tidak menghilang. Hidangan ini berganti nama menjadi peixinhos da horta, yang umumnya berupa sayuran atau ikan kecil dibalut adonan dan digoreng garing.
Meski berasal dari luar negeri, Jepang berhasil mengadaptasi tempura hingga menjadi salah satu simbol kulinernya. Sejarah tempura adalah bukti bahwa akulturasi budaya dapat melahirkan identitas baru yang melekat kuat pada suatu bangsa.
Baca juga: Wisata Gunung Bromo: Pesona Alam & Budaya Tengger
