Sejarah Tteokbokki, Jajanan Pedas Korea Populer

Sejarah Tteokbokki Tteokbokki

Sejarah tteokbokki dapat ditelusuri hingga penghujung Dinasti Joseon. Kudapan ini tercatat dalam buku kuliner kuno Siui Jongseo. Tteokbokki menggunakan bahan utama tteok atau kue beras yang dibentuk padat, lalu dimasak dengan bumbu.

Bahkan, jejak tteok sudah ada jauh sebelum Dinasti Joseon. Pada era Tiga Kerajaan, masyarakat Korea telah mengenal olahan beras serupa lontong ini. Dalam catatan medis Shingnyo Chanyo karya tabib Jeon Sunui, tteokbokki juga disebut sebagai makanan penyembuh.

Perubahan di Era Modern

Dahulu, tteokbokki disajikan dengan rasa gurih dan cenderung sederhana. Namun sejak dua dekade terakhir, jajanan ini mengalami transformasi besar. Saus gochujang yang pedas membuat cita rasanya lebih kuat dan mudah diterima oleh generasi muda.

Popularitas tteokbokki meningkat seiring dengan merebaknya budaya pop Korea di dunia. Dari drama, musik K-Pop, hingga kuliner, jajanan ini ikut dikenal dan menjadi ikon street food Korea.

Dukungan Pemerintah Korea

Tingginya minat masyarakat terhadap tteokbokki membuat pemerintah Korea Selatan mendirikan “Laboratorium Tteokbokki” pada 2009. Lembaga ini bertujuan mengembangkan resep, saus, hingga teknik memasak agar lebih sesuai dengan selera global.

Untuk kebutuhan internasional, ejaan “Topokki” pun diperkenalkan agar lebih mudah dipasarkan. Selain itu, ada dorongan untuk kembali menggunakan beras sebagai bahan utama karena dianggap lebih sehat dibanding tepung.

Popularitas di Indonesia

Demam tteokbokki juga terasa di Indonesia. Hampir semua restoran Korea menyajikan kudapan ini sebagai menu wajib. Varian rasa pun beragam, mulai dari pedas otentik dengan saus gochujang hingga versi gurih berbumbu kecap. Bahkan, tambahan keju meleleh kini menjadi favorit banyak pecinta kuliner.

Hidangan Simbolis Korea

Kini, tteokbokki bukan hanya sekadar jajanan pinggir jalan. Ia menjadi simbol kuliner Korea yang mendunia. Teksturnya kenyal, rasanya kaya, dan sejarahnya panjang, membuat tteokbokki selalu istimewa di hati para pencinta makanan pedas.

Baca juga: Eksplorasi Eropa: Paris hingga Roma dengan Visa Schengen