Awal Mula Latiao

Sejarah Latiao di Cina berawal dari Provinsi Hunan pada tahun 1998. Saat itu, wilayah di sepanjang Lembah Sungai Yangtze dilanda banjir bandang besar. Bencana ini membuat jutaan orang terdampak dan bahan pangan menjadi sulit.

Karena harga kedelai melonjak, tiga warga lokal di Kota Piangjing mencari alternatif. Mereka memanfaatkan tepung terigu dan mesin pemeras mie panjang (tiao) untuk membuat adonan. Setelah ditambahkan bumbu pedas (la), terciptalah jajanan baru bernama Latiao.

Produk ini mulai diproduksi massal pada akhir 1990-an dan dijual murah di minimarket serta warung. Memasuki 2000-an, Latiao semakin populer dan bahkan menyumbang nilai produksi hingga puluhan miliar yuan.

Perjalanan Popularitas Latiao

Meski sempat dinyatakan tidak memenuhi standar keamanan pangan oleh otoritas di Provinsi Shanxi pada 2018, Latiao tetap beredar luas. Saat pandemi, permintaan produk ini justru meningkat pesat.

Pada 2023, penjualan Latiao mencapai ratusan ribu ton dengan nilai produksi mencapai sekitar 132 triliun rupiah. Popularitasnya juga makin terdongkrak berkat tren media sosial.

Kasus Latiao di Indonesia

Di Indonesia, jajanan Latiao sempat menjadi tren di kalangan anak sekolah. Namun, sejak 2024 muncul beberapa kasus keracunan. Salah satunya terjadi di Bandung Barat, ketika sejumlah siswa mengalami mual, pusing, hingga muntah setelah mengonsumsinya saat jam istirahat.

Kasus serupa ditemukan di berbagai daerah seperti Lampung, Sukabumi, Wonosobo, Tangerang Selatan, Pamekasan, Riau, hingga Jawa Timur.

Alasan BPOM Menarik Latiao

Hasil uji laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menunjukkan bahwa Latiao mengandung bakteri Bacillus cereus. Bakteri ini berpotensi meningkatkan kadar leukosit, menurunkan trombosit, serta memicu gejala mual, pusing, dan lemas.

Karena membahayakan kesehatan, BPOM meminta importir menarik produk dari peredaran. Penangguhan sementara juga diberlakukan terhadap izin registrasi dan impor hingga pemeriksaan selesai.

Komposisi Latiao

Secara umum, Latiao terbuat dari bahan dasar kulit tahu dan bumbu pedas. Berikut komposisinya:

  • Kulit tahu
  • Bawang putih dan bawang bombai
  • Minyak goreng dan minyak wijen
  • Bubuk cabai halus dan kasar
  • Chili oil
  • Wijen sangrai
  • Gula, garam, kaldu bubuk
  • Bawang putih bubuk

Proses pembuatannya melibatkan perendaman kulit tahu, pengukusan, pencampuran bumbu pedas, lalu perendaman kembali agar rasa lebih meresap.

Kesimpulan

Latiao yang awalnya muncul sebagai solusi pangan pasca bencana di Cina kini menjadi jajanan populer. Namun, kasus keracunan di berbagai daerah membuat produk ini diawasi ketat. Masyarakat diimbau lebih bijak sebelum mengonsumsinya, terutama karena ada risiko kesehatan yang cukup serius.

Baca juga: Wisata Menikmati Keindahan Colosseum Roma: Ikon Sejarah Italia yang Mendunia