Sejarah Pempek Palembang
Pempek atau empek-empek merupakan makanan khas Palembang berbahan dasar ikan yang disajikan dengan kuah hitam asam manis pedas bernama cuko. Hidangan ini dipercaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-7.
Bukti keberadaan makanan berbahan sagu tercatat dalam Prasasti Talang Tuo. Seiring perkembangan, pempek juga dikaitkan dengan pengaruh perantau Tionghoa pada abad ke-16 saat masa Sultan Badaruddin II. Kala itu, hidangan ini disebut kelesan dan biasa dihidangkan dalam acara adat di Rumah Limas.
Istilah pempek sendiri muncul dari panggilan “empek” atau “apek” yang merujuk pada penjual keturunan Tionghoa yang memperkenalkan jajanan ini sekitar awal abad ke-20. Dari situlah nama pempek bertahan hingga sekarang dan menjadi identitas kuliner Palembang.
Baca juga: Prabowo Kunjungi Rumah Duka Affan Kurniawan, Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob
Jenis-Jenis Pempek
Pempek memiliki banyak variasi dengan bentuk, bahan, dan cara penyajian berbeda. Beberapa yang paling populer di antaranya adalah:
- Pempek Kapal Selam: berbentuk besar dengan isian telur rebus di dalamnya.
- Pempek Lenjer: berbentuk memanjang dan biasanya disantap bersama kuah cuko.
- Pempek Lenggang: dibuat dari campuran adonan pempek dengan telur, lalu digoreng hingga garing.
Cara Membuat Pempek Palembang
Secara umum, pempek dibuat dari daging ikan tenggiri atau belida yang dicampur dengan sagu, garam, dan air. Setelah diuleni hingga kalis, adonan dibentuk sesuai jenis yang diinginkan, lalu direbus atau digoreng.
Kuah cuko menjadi pelengkap utama pempek. Kuah ini dibuat dari campuran gula merah, bawang putih, cabai rawit, garam, asam jawa, dan cuka. Rasa asam, pedas, dan manis cuko membuat pempek semakin nikmat.
Sejarah Pempek Sebagai Warisan Kuliner Nusantara
Kini, pempek tidak hanya menjadi makanan khas Palembang, tetapi juga dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia bahkan hingga mancanegara. Keunikan rasanya membuat pempek bertahan sebagai salah satu ikon kuliner tradisional yang mewakili kekayaan budaya Sumatera Selatan.
