Sejarah Waffle salah satu kudapan populer yang bisa dinikmati dalam versi manis maupun gurih. Meski kelihatan sederhana, sejarahnya ternyata panjang dan sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Bukti pertama adanya waffle berasal dari Eropa abad ke-13, ketika para pengrajin logam membuat cetakan bermotif sarang lebah untuk memanggang adonan di atas api terbuka.
Asal Usul Sejarah Waffle
Nama “waffle” berasal dari bahasa Prancis, gaufre. Pada masa itu, kalangan menengah ke bawah hanya membuat waffle dari campuran tepung dan air sehingga menghasilkan kue yang kering. Sementara kalangan bangsawan menambahkan telur, susu, madu, dan ragi sehingga menciptakan versi waffle yang lebih lembut dan nikmat.
Baca juga: Menko Yusril: Jimly Asshiddiqie Masuk Komite Reformasi Polri Bentukan Prabowo
Perjalanan ke Amerika
Waffle mulai dikenal luas setelah abad ke-16, ketika orang Belanda membawa hidangan ini ke Amerika. Thomas Jefferson juga ikut memperkenalkannya setelah kembali dari Prancis dengan membawa resep dan cetakan waffle. Pada 24 Agustus 1869, Cornelius Swarthout mematenkan cetakan waffle yang lebih praktis digunakan. Tanggal tersebut kini diperingati sebagai Hari Waffle Nasional di Amerika Serikat.
Perkembangannya semakin pesat ketika Thomas J. Stackbeck menemukan cetakan elektrik waffle di awal abad ke-20. Pada tahun 1953, muncul inovasi waffle beku yang mudah dipanaskan di oven atau microwave. Produk ini kemudian dikenal dengan nama “Eggo” setelah diambil alih oleh Kellogg pada tahun 1970 dan menjadi populer hingga sekarang.
Variasi Waffle
- Waffle Belgia: terkenal dengan topping stroberi, es krim, dan krim kocok.
- Waffle Gurih: disajikan dengan telur, daging, atau keju sehingga mirip sandwich.
- Croffle: kombinasi croissant dan waffle, yang baru-baru ini menjadi tren dengan topping manis maupun gurih.
Penutup
Dari cetakan sederhana di Eropa abad pertengahan hingga berbagai inovasi modern, waffle telah melewati perjalanan panjang sebagai kuliner dunia. Kini, waffle hadir dalam beragam bentuk dan rasa, menjadikannya hidangan fleksibel yang bisa dinikmati kapan saja, baik sebagai sarapan, camilan, maupun makanan penutup.
Baca juga: Nasi Lapola, Makanan Tradisional Maluku Penuh Makna Kebersamaan
