Lontong Tahu Blora: Sejarah, Ciri Khas, dan Cara Membuatnya
Lontong Tahu Blora menjadi salah satu hidangan tradisional yang paling mudah ditemukan di Blora, Jawa Tengah. Kuliner ini terdiri atas potongan lontong yang dibungkus daun pisang dan tahu goreng segar, disiram dengan bumbu kacang khas yang diulek langsung di cobek. Kesederhanaan bahan dan keunikan tradisinya membuat makanan ini terus digemari hingga sekarang.
Tradisi dan Ciri Khas Penyajian
Keunikan lontong tahu khas Blora terlihat sejak cara membungkus lontong. Para penjual masih mempertahankan penggunaan daun pisang, bukan plastik, untuk menjaga cita rasa asli sekaligus mempertahankan sentuhan tradisional. Menariknya, sebagian besar penjual memiliki takaran tersendiri bagi pembeli. Pembeli pria biasanya mendapat satu lontong utuh dalam satu porsi, sedangkan pembeli wanita diberikan porsi yang sedikit lebih kecil.
Warung lontong tahu masa kini juga tetap mempertahankan keberadaan pikulan sebagai simbol sejarah. Dahulu, pikulan digunakan untuk berjualan secara berkeliling dari satu kampung ke kampung lain. Kini pikulan lebih menjadi penanda identitas budaya bagi para penjual.
Bumbu Kacang yang Diulek Tradisional
Bumbu lontong tahu Blora memiliki karakter berbeda. Bawang putih, cabai, kecap, dan kacang tanah dihaluskan langsung di cobek menggunakan penghalus dari akar bambu. Teknik tradisional ini dipercaya membuat aroma dan rasa bumbu lebih kuat. Tahu yang digunakan pun bukan tahu sembarangan. Penjual hanya menggoreng tahu apabila ada pembeli datang, sehingga tahu selalu tersaji hangat.
Saat memesan, pembeli juga dapat memilih penyajian dengan piring biasa atau daun jati. Penggunaan daun jati sering menjadi pilihan karena dianggap memberikan aroma tersendiri yang menambah kenikmatan hidangan. Tempe goreng dan kerupuk biasanya menjadi pelengkap yang tidak pernah absen.
Sejarah Lontong Tahu Blora
Menurut sejarawan Blora, H. Soelistijono, Lontong Tahu Blora merupakan bentuk perkembangan dari lontong sayur yang sudah lama menjadi bagian dari upacara adat seperti panen, sedekah bumi, dan pendirian rumah. Hidangan ini mulai dikenal pada tahun 1930-an, seiring masuknya pengusaha Tionghoa yang membawa tahu dan kecap dari Tiongkok.
Pada era 1960-an, lontong tahu banyak dikonsumsi masyarakat kelas menengah ke bawah. Kini, makanan tersebut tidak hanya dijual di warung atau kaki lima, tetapi juga menjadi hidangan dalam acara kantor maupun pertemuan formal. Tradisi berjualan lontong tahu awalnya dilakukan oleh pria yang memikul dagangannya, sementara perempuan membawa kebutuhan tambahan. Namun kini mayoritas penjual justru perempuan yang berjualan di tempat tetap.
Resep Lontong Tahu Blora Sederhana
Bahan:
- Lontong secukupnya
- 5 buah tahu goreng
- 1 kepal tauge
- 2 siung bawang putih
- Bawang merah goreng secukupnya
- 3 cabai rawit
- 3 sdm kecap
- 3 kepal kacang tanah
- 2 sdm air jeruk nipis
- 150 ml air
- Seledri/daun kucai secukupnya
Cara membuat:
- Goreng tahu hingga matang, lalu potong.
- Goreng kacang tanah hingga kecokelatan dan tiriskan.
- Rendam tauge dalam air panas hingga layu.
- Haluskan kacang tanah (sisihkan sedikit untuk taburan).
- Tambahkan bawang putih dan cabai rawit, ulek hingga halus.
- Tuang air jeruk nipis, air, dan kecap, lalu aduk rata.
- Siapkan mangkuk, isi dengan lontong, tahu, dan tauge.
- Siram dengan bumbu kacang, lalu beri taburan kacang utuh, bawang goreng, dan seledri.
Lontong tahu khas Blora siap dinikmati selagi hangat.
