Sejarah Pisang Bolen Bandung, Oleh-oleh Legendaris

Pisang Bolen, Ikon Oleh-oleh Kota Bandung

Saat berkunjung ke Bandung, banyak wisatawan menjadikan pisang bolen sebagai buah tangan wajib. Camilan ini dikenal dengan kulit pastry berlapis dan isian manis yang menggugah selera. Perpaduan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam membuatnya sulit dilupakan.

Selain rasanya, pisang bolen juga memiliki cerita panjang dalam dunia kuliner Bandung. Oleh karena itu, camilan ini bukan sekadar makanan, tetapi juga bagian dari identitas kota.

Awal Mula Pisang Bolen Bandung

Sejarah pisang bolen Bandung tak lepas dari nama Kartika Sari, toko kue legendaris di Kota Kembang. Pada tahun 1984, Ratnawati Purnomo mulai memperkenalkan pisang bolen ke publik.

Sebelumnya, Kartika Sari hanya menjual kue lapis dan bolu kukus. Namun, kecintaannya pada dunia pastry mendorong inovasi baru. Dari sinilah pisang bolen lahir dan perlahan menjadi primadona.

Seiring waktu, popularitas pisang bolen terus meningkat. Bahkan, camilan ini identik dengan oleh-oleh khas Bandung hingga sekarang.

Asal-usul Nama “Bolen”

Menariknya, nama “bolen” diambil dari bentuk kue yang menyerupai truk molen atau truk pengaduk semen. Bentuknya memanjang dan padat, mirip silinder kecil.

Selain itu, pisang bolen terinspirasi dari teknik pastry Belanda. Namun, resepnya telah disesuaikan dengan bahan lokal dan selera masyarakat Indonesia. Karena adaptasi inilah, rasanya terasa akrab di lidah.

Variasi Isian yang Terus Berkembang

Awalnya, pisang bolen hanya berisi pisang. Akan tetapi, tingginya permintaan pasar mendorong lahirnya berbagai varian baru.

Kini, pisang bolen hadir dengan isian cokelat, keju, durian, apel, kacang hijau, hingga tape atau peuyeum khas Jawa Barat. Inovasi ini membuat pisang bolen tetap relevan dan diminati lintas generasi.

Perbedaan Pisang Bolen dan Pisang Molen

Meski namanya mirip, pisang bolen dan pisang molen adalah dua camilan berbeda. Pisang molen umumnya berukuran lebih kecil dan banyak dijual sebagai gorengan kaki lima.

Sementara itu, pisang bolen menggunakan adonan pastry berlapis dengan tekstur lebih renyah. Dari sisi isian, bolen juga lebih variatif. Selain pisang, tersedia banyak pilihan rasa lain.

Tak hanya itu, harga pisang bolen biasanya lebih mahal. Hal ini sebanding dengan bahan, proses pembuatan, dan citranya sebagai oleh-oleh premium.

Pisang Bolen dalam Budaya Kuliner Bandung

Hingga kini, pisang bolen tetap menjadi simbol kuliner Bandung. Keberadaannya tak tergeser oleh tren makanan modern.

Dengan sejarah panjang, cita rasa khas, dan inovasi berkelanjutan, pisang bolen berhasil mempertahankan posisinya. Oleh sebab itu, camilan ini selalu dicari oleh wisatawan yang ingin membawa pulang rasa Bandung.